Senin, 24 Juni 2013

AMALAN-AMALAN RASULULLAH SELAMA RAMADHAN

Ramadhan sebentar lagi akan menjelang, ada baiknya dalam rangka mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah selama bulan yang mulia itu hendaknya kita mempelajari bagaimanakah amalan-amalan utama beliau selama Ramadhan.
 
Sedekah
AMALAN yang menghidupkan Ramadan ialah memperbanyakkan sedekah karena sikap bermurah hati pada Ramadan adalah dituntut. Ibn Abbas melaporkan: "Rasulullah adalah orang yang paling dermawan dan beliau lebih dermawan lagi pada Ramadan ketika Jibril menemuinya lalu membacakan padanya al-Quran.
(Hadis riwayat Bukhari)
 
Membaca al-Quran
Disunatkan memperbanyakkan bacaan al-Quran pada bulan Ramadan karena ia bulan al-Quran seperti firman Allah yang artinya :
Bulan Ramadan yang padanya diturunkan al-Quran, menjadi petunjuk bagi sekalian manusia dan menjadi keterangan yang menjelaskan petunjuk dan (menjelaskan) perbedaan antara yang benar dengan yang salah." (Surah al-Baqarah, ayat 185) 
 
Malaikat Jibril senantiasa bertadarus al-Quran dengan Nabi SAW setiap hari sepanjang Ramadan. Para salaf mendahulukan bacaan al-Quran daripada ibadah lain. Sebahagian salaf khatam al-Quran dalam waktu tiga hari, sebahagiannya tujuh hari dan 10 hari pada Ramadan.
 
Syaidina Ushman bin Affan khatam al-Quran setiap hari pada Ramadan. Imam Zuhri berkata apabila tiba Ramadan, "Sesungguhnya Ramadan itu bulan membaca al-Quran dan menyediakan makanan untuk orang berpuasa."

Memberikan makan kepada orang yang berbuka puasa.
Rasulullah Muhammad Shallallahu Alayhi Wassalam bersabda : 
"Sesiapa yang memberikan makan kepada orang yang berpuasa, maka baginya seperti pahala (orang yang berpuasa) dalam keadaan tidak berkurung sedikitpun dari pahala orang yang berpuasa itu." 
 (Hadis riwayat Ahmad, Tirmizi, Ibn Majah dan ad-Darimi) 
 
Qiyamullail
Disunahkan beribadah secara berjemaah pada bulan Ramadan iaitu shalat terawih dan waktunya di antara shalat Isya sehinggalah terbitnya fajar. Rasulullah Shallallahu Alayhi Wassalam sangat gemar mendirikan ibadah dalam malam-malam pada bulan Ramadan.
Rasulullah bersabda yang bermaksud: "Sesiapa menghidupkan Ramadan dengan keimanan dan pengharapan pahala daripada Allah Taala, maka akan diampunkan segala dosanya yang terdahulu."
(Hadis riwayat Bukhari)
 
Shalat tarawih
 
Shalat tarawih adalah shalat khusus yang hanya dilakukan pada Ramadan. Shalat tarawih, walaupun dapat dilaksanakan bersendirian, umumnya dilakukan secara berjemaah di masjid. Di sesetengah tempat, sebelum solat tarawih, diadakan ceramah singkat bagi menasihati jemaah. 
 
Mengerjakan umrah
Perkara disunatkan pada Ramadan adalah mengerjakan umrah berdasarkan sabda  Rasulullah Shallallahu Alayhi Wassalam Umrah pada Ramadan (pahalanya) sama dengan (pahala) mengerjakan haji atau mengerjakan haji bersamaku." (Hadis riwayat Bukhari) 
 
Zakat fitrah
 
Zakat fitrah dikeluarkan khusus pada Ramadan atau paling lambat sebelum selesainya shalat sunat hari raya. Setiap Individu Muslim yang berkemampuan wajib membayar zakat fitrah. Nilai zakat fitrah adalah satu gantang makanan pokok / makanan utama atau setara dengan 2.7 kilogram beras. 

Selasa, 18 Juni 2013

TANGGUNG JAWAB WANITA

Secara umum tanggung jawab wanita dan laki-laki sama dihadapan Allah yaitu beribadah kepada Allah. Melaksanakan fungsi kekhalifahan diatas muka bumi. Dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban dan mendapat balasan di akhirat terhadap apa yang telah dilakukannya selama hidup di dunia. (QS. annisaa 124) dan hadist “kullukum roo’in wakullukum masuulun ‘an ro’iyyatihi’…’
“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, Maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.”

Secara khusus tanggung jawab wanita muslimah tidak kalah sedikit dibanding kaum laki-laki. Bahkan adakalanya tanggung jawab wanita muslimah lebih besar daripada laki-laki, karena jika dirinci, akan terdapat jauh lebih banyak tugas wanita dibanding laki-laki. Hal ini dapat dilihat dalam pembagian periode kehidupan wanita muslimah.

Dua Periode Kehidupan Wanita Muslimah
A.  Sebelum Menikah
Di antara keutamaan wanita muslimah sebelum menikah adalah menunaikan hak-hak kedua orang tuanya.Yang demikian itu karena merupakan perintah Al-qur’an dan Sunnah Nabi.
Berikut ini beberapa tanggung jawab wanita muslimah terhadap kedua orang tuanya :
a. Birrul walidain (berbuat baik kepada orang tua)
Allah azza wa Jalla memberikan kedudukan tinggi dan mulia kepada     orangtua. Allah meletakkan kedudukan tersebut setelah kedudukan iman dan tunduk patuh padaNya.: (QS. An Nisa:36)
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh[294], dan teman sejawat, ibnu sabil[295] dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,”
[294]  dekat dan jauh di sini ada yang mengartikan dengan tempat, hubungan kekeluargaan, dan ada pula antara yang muslim dan yang bukan muslim.
[295]  Ibnus sabil ialah orang yang dalam perjalanan yang bukan ma’shiat yang kehabisan bekal. termasuk juga anak yang tidak diketahui ibu bapaknya.
Wanita muslimah yang menyadari petunjuk agamanya merupakan anak yang paling berbakti kepada kedua orangtuanya.Tanggung jawab ini tidak akan berhenti sampai menjalani hidup rumah tangga dan mengasuh putera-puterinya,akan tetapi terus berlanjut hingga akhir hayatnya. Hal itu merupakan wujud pengamalan Al-Qur’an .
Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wassalam menempatkan birrul walidain diantara dua amalan terbesar dalam Islam,yaitu shalat pada waktunya dan jihad di jalan allah.
Shalat adalah tiang agama,sedangkan jihad di jalan allah merupakan puncak tertinggi Islam.Lalu adakah kedudukan yang paling mulia yang diberikan Rosul selain kedudukan itu?
‘’Pernah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah yang membai’atnya untuk hijrah dan jihad dengan tujuan mencari pahala dari Allah.rosulu tidak menerimanya,akan tetapi bertanya :’apakah salah seorang dari kedua orang tuamu masih hidup?’.
Orang itu menjawab :”masih,bahkan keduanya masih hidup’.Maka rosul bersabda :” Bukankah engkau ingin mendapatkan pahala dari Allah Ta’ala?
Dia menjawab : “Benar”
Kemudian Rosul bersabda :”Kembalilah kepada kedua orang tuamu dan pergaulilah keduanya dengan baik ( Muttafaq ‘Alaih).
Sedangkan dalam riwayat Imam Bukhari dan Muslim disebutkan;
Ada seorang laki-laki yang datang dan meminta izin kepada Rosulullah untuk berjihad.Lalu Beliau bertanya:”
Apakah kedua orang tuamu masih hidup?”
Orang itu menjawab :”masih”
Maka Rosulpun bersabda :”Demi keduanya,berangkatlah berjihad”
Pada kisah pertama,bagaimana Rosulullah mendahulukan merawat orangtua yang sudah renta ketimbang berangkat berjihad,karena Rosul mengetahui orang tua laki-laki itu lebih memerlukan anaknya,sementara medan jihad masih ada orang lain,meski saat itu Nabi masih membutuhkan jumlah pasukan.
Hal lain yang harus menjadi perhatian adalah berbuat baik kepada kedua orangtua tetap dilakukan meski keduanya bukan muslim.Seperti yang dikisahkan dalam hadist berikut ini :
Asma binti abu Bakar r.a berkata : “Ibuku pernah mendatangiku,sedang dia seorang musyrik pada masa Rasulullah.Lalu aku meminta petunjuk kepada Rosul :”Ibuku telah datang kepadaku dengan penuh harapan kepadaku, apakah aku harus menyambung hubungan dengan ibuku itu ?” Beliau menjawab :” Benar, sambunglah hubungan dengan ibumu !” (Muttafaq ‘alaih).
Berbuat baik kepada orang tua juga berarti sangat takut berbuat durhaka kepada kedua orangtua dalam bentuk berkata kasar,nada suara yang melampaui suara orang tua, berkata ‘uf’ (ah),menyakiti hatinya,menganiaya fisiknya,tidak menghormatinya,tidak memuliakannya,termasuk membiarkannya bekerja keras sementara anak mampu untuk mengerjakannya.
Hendaknya wanita muslimah mendahulukan berbuat baik kepada ibu , kemudian kepada bapak. Pernah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah dan bertanya : “Ya Rasulullah,siapakah yang paling berhak saya pergauli dengan baik ?”
Rasulullah menjawab :”Ibumu”
Orang itu bertanya lagi :”Lalu siapa “
Beliau menjawab ::”Kemudian siapa lagi”
“Ibumu” demikian jawaban Rasulullah.
Beliau menjawab: “Bapakmu” (Muttafaq ‘alaih )
b. Menghormati Kerabat-Kerabatnya
Menghormati kerabat orang tua dari jalur ibu dan bapak seperti paman,tante,sepupu,dan seterusnya merupakan tanggung jawab wanita muslimah kepada kedua orang tua, yakni memelihara hubungan kekeluargaan.
(An Nisaa :1) :
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang Telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya[263] Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain[264], dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan Mengawasi kamu.”
[263]  maksud dari padanya menurut Jumhur Mufassirin ialah dari bagian tubuh (tulang rusuk) Adam a.s. berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan muslim. di samping itu ada pula yang menafsirkan dari padanya ialah dari unsur yang serupa yakni tanah yang dari padanya Adam a.s. diciptakan.
[264]  menurut kebiasaan orang Arab, apabila mereka menanyakan sesuatu atau memintanya kepada orang lain mereka mengucapkan nama Allah seperti :As aluka billah artinya saya bertanya atau meminta kepadamu dengan nama Allah.
Kedudukan menghormati dan berbuat baik kepada kerabat menempati kedudukan setelah berbuat baik kepada orang tua, (An-Nisaa :36)
c. Mendo’akannya
Di antara tanggung jawab wanita muslimah kepada orang tua adalah selalu mendo’akannya.
Dalam sebuah hadist diceritakan,bahwa ada orang tua yang bertanya-bertanya kepada Allah pada Hari Pembalasan karena mendapatkan ni’mat surga, lalu Allah menjawab bahwa itu karena do’a anaknya yang sholeh (Muttafaq ‘alaih).

Allah memberikan tuntunan bagaimana seharusnya seorang anak tidak melupakan orang tuanya dalam do’a. (QS. Al Israa:24)
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua Telah mendidik Aku waktu kecil.”
Mendoakan kedua orang tua adalah bentuk amal kebajikan yang tidak akan terhalang hingga di hari pembalasan. Dalam hadist shohih disebutkan bahwa salah satu diantara 3 amal manusia yang tidak putus setelah manusia meninggal  adalah do’a anak yang sholeh.
Mendo’akan juga merupakan bentuk memperkuat hubungan ruhiyah antara anak dan orang tua kepada Allah. Bagi wanita muslimah ini sangat penting karena kelak ia akan memasuki kehidupan berikut sebagai seorang ibu.Sehingga ia menghayati betapa berartinya sebuah do’a.
d. Memohonkan Ampun Untuk Mereka
Sebagai manusia biasa, orang tua sangat mungkin banyak melakukan kekhilafan dan kesalahan.Hendaknya wanita muslimah memahami ini.Maka ketika mendo’akan mereka sertai dalam do’a permohonan ampun kepada Allah atas segala kehilafan dan kesalahan orang tua. Ketika seorang anak masih kecil, maka kedua orang tuanya selalu mendo’akan agar ia tumbuh besar sehat,cerdas,dan beriman. Do’a ini diucapkan dengan penuh kasih sayang tanpa putus. Maka sebagai bentuk kasih sayang anak kepada orang tua,sudah sepatutnya seorang anak juga mendo’akan bagi mereka,meski belum tentu berbanding nilai yang sama. (Hadits mendoakan mohon ampun kepada Allah untuk orangtua)
e. Menunaikan Janjinya
Wanita muslimah  menunaikan janji kedua orangtuanya ketika orangtuanya telah meninggal.
Dikisahkan seorang wanita dari suku Juhainah yang datang kepada Nabi SAW, selanjutnya wanita itu bertutur,
“Ibuku pernah bernazar untuk menunaiknan ibadah haji tapi ia meninggal sebelum sempat menunaikannya. Apakah aku harus berhaji untuknya?” Nabi menjawab, “Ya, berhajilah untuknya, bukankah engkau mengetahui bahwa apabila ibumu mempunyai uang engkau akan membayarnya, karena itu tunaikanlah haji, karena hak Allah itu lebih wajib untuk dipenuhi.” (HR. Bukhari)
Dalam riwayat lain disebutkan wanita itu berkata,
“Ibuku mempunyai hutang puasa selama satu bulan, apakah aku harus menggantinya?” Nabi menjawab, “Berpuasalah untuknya,” (HR. Muslim).

Oleh karena itu penting bagi wanita muslimah mengetahui dan menunaikan janji termasuk hutang kedua orangtuanya. Sehingga dapat membebaskan kedua orangtuanya dari pertanyaan Allah di akhirat nanti.
f. Menyambungkan persaudaraan kerabat kedua orangtua.
Islam telah memberikan penghormatan terhadap kaum kerabat, mengajurkan melakukan hubungan kekerabatan dan sangat membenci orang yang menolak atau memutuskan hubungan kekerabatan.
Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah, Rasul saw. bersabda,
“Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk hingga ketika selesai menciptakan mereka itu kaum kerabat berdiri seraya berkata, “Ini adalah tempat kembalinya mereka yang kembali kepada-Mu setelah memutuskan silaturahim.”
Allah berfirman, “Benar, apakah engkau rela Aku menyambung tali persaudaraan denganmu dan memutuskan orang yang memutuskan tali persaudaraan denganmu.“ Kaum kerabat bertutur, “Tentu,” lalu Allah berfirman,”Yang demikian itu untukmu,” Kemudian Rasul bersabda,”Jika berkehendak bacalah ayat:(Surat Muhammad: 22 _ 23)
22.  Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?
23.  Mereka Itulah orang-orang yang dila’nati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.

Melalui ayat tersebut Allah memerintahkan manusia untuk menyambung tali persaudaraan di antara kerabat. Hal ini dilakukan untuk memperluas kebaikan dan mewariskan keimanan pada Allah dalam hubungan kekerabatan. Bagaimana Rasulullah mencontohkan kepada keluarganya pada setiap kali memasak penganan agar dilebihkan untuk bisa dibagikan kepada kerabat Khadijah ra., ketika Khadijah sudah wafat.
B.  Setelah menikah
Periode berikut dalam kehidupan wanita muslimah adalah setelah menikah, jika ia memasuki kehidupan berkeluarga untuk membentuk rumah tangga Islami.
Pada tahap ini, ada tiga bagian tanggung jawab besar :
1. Terhadap Suami
a. Taat pada suami
Ketaatan seorang wanita muslimah pada suaminya adalah perintah Allah ‘Azza wa Jalla. Dibalik perintah Allah ini terkandung keutamaan-keutamaan:
i. Masuk pintu surga dari pintu surga mana saja yang dikehendaki.
Menurut Rasulullah Sallalallahu ‘alaihi wassalam : “Apabila seorang wanita sholat lima waktu, shoum di Bulan Ramadhan,dan taat kepada suaminya maka ia berhak masuk surga dari pintu mana saja yang ia kehendaki.” (HR Ahmad dan Thabrani).
ii. Mendapat ampunan
“Burung-burung di udara, hewan di lautan,dan para Malaikat akan memohon ampunan kepada Allah bagi seorang wanita yang taat pada suaminya dan suaminya ridlo kepadanya.” (Muttafaqun ‘alaih)
Tentu saja ketaatan seorang isteri kepada suaminya selama suaminya mengajak kepada kebaikan dan tidak mengajak kepada ma’shiyat kepada Allah.. Sebagian Ulama berpendapat bahwa taat yang dimaksud adalah ketaatan ketika suami memanggil dan mengajak isteri.  Allahu A’lam.

WANITA SEBAGAI AGENT OF CHANGE

Para mahasiswa tentu tak asing dengan ungkapan ‘agent of change’. Kalau di antara para mahasiswa ada yang asing atau bahkan belum dengar, mungkin kampusnya tidak mengadakan ospek atau memang tak ikut ospek.Benarlah bahwa memang pengemban dakwah juga tidak semata hanya lelaki yang melakoni. Wanita juga sangat berperan penting dalam dakwah. Bahkan juga berperan aktif, bukan sekadar peran pasif. Satu yang pasti, para wanita adalah pendidik terbaik dalam diri seseorang. Dalam satu gerakan dakwah ada liqo. Pastilah murabbi (murabbiyah)-nya seorang wanita. Peran wanita sangatlah penting untuk selalu menggerakkan roda dakwah. Entah itu bekerja di balik layar, bekerja di dapur, bekerja di manapun yang tak bisa dilakukan para lelaki.

Wanita itu agen perubahan. Kalau tak percaya, bagaimana nasib Bangsa Yahudi jika Musa tak diadopsi ‘Aisyiah, istri Fir’aun? Siapa yang berandil ‘memperkenalkan’ Sumur Zam-Zam kepada kita jikalau Siti Hajar tak membawa Isma’il berlari-lari hingga lelah? Siapa yang mengandung ‘Isa hingga ia harus bersembunyi melahirkannya karena telah dituduh berzina kalau bukan Maryam? Siapa yang pertama beriman dan masuk Islam setelah Muhammad diangkat sebagai Utusan Allah kalau bukan istrinya sendiri, Khadijah binti Khuwailid? Siapa pula yang berandil melahirkan para pembaca kalau bukan ibunya? Mereka semua adalah wanita, membawa pencerahan kepada umat dari kegelapan nan suram.

Maka kiranya kita sepakat, bahwa wanita memanglah agen perubahan. Namun perubahan tak selalu baik, maka kita juga patut meneladani para agen perubahan ini merubah dunia menjadi sangat ingin dilupakan. Ingatlah siapa yang mendidik anak Nuh menjadi kufur kepada ayahnya! Ingatlah siapa keluarga Luth yang ikut diadzab Allah saat peristiwa hujan batu di bumi Sodom dan Gomorah!Memang peran lelaki kepada wanita dalam rangka ke jalan mana ia mendidik tidak bisa dikesampingkan. Namun para pria tetaplah ‘bergantung’ kepada para wanita. Di samping siapa yang melahirkan dan menyusui, wanita adalah madrasah pertama bagi anak-anak, penasihat pribadi bagi suaminya, dan orang yang lihai dalam multi-tasking (melakukan beberapa pekerjaan dalam satu waktu).

Maka para pria memang diperintahkan mencari jodoh yang baik, agar memiliki keturunan yang baik pula.
“Nikahilah wanita karena 4 pekara: karena hartanya, kecantikannya, keturunannya, dan karena agamanya” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis lain lebih spesifik lagi, “maka nikahilah wanita karena agamanya”. Hingga sekarang, bagi kaum Muslimin memang ini menjadi standardisasi calon istri idaman. Sudah kaya, cantik, subur, sholihah pula. Siapa yang tak tergila dengannya. Namun tetaplah agama yang baik adalah kriteria utama, karena kesempurnaan cinta dan keutuhan rumah tangga, terletak di sana. Ummu warobatul bayt hanya bisa dijalankan dengan baik oleh si Muslimah sholihah, bukan sembarang wanita. Karena itulah dibutuhkan seorang istri yang pandai bahu-membahu dengan suaminya membina rumah tangga. Karena masa anak-anak kelak, sangat bergantung bagaimana orang tuanya. Dalam hal ini, seorang ibu memang sangat berperan penting. Karena memang hadirnya seorang anak ke dunia, berasal dari rahim sang ibu. Pengemban dakwah yang baik, akan lahir dari keluarga yang senantiasa takut kepada-Nya.

Ada yang bilang, di belakang seorang pria sukses, ada wanita hebat pula di belakangnya. Tak bisa dipungkiri memang, walau tak selalu benar. Jika ingin anak yang pintar, ibu yang pandai mengajar adalah kuncinya. Seorang ibu adalah orang terdekat bagi anaknya saat masih kanak-kanak. Agar tak lepas kendali saat dewasa, maka lindungilah sejak dini. Siapa lagi yang berperan melindungi anak jika bukan seorang ibu? Mungkinkah ayahnya membawa si anak ke tempat kerja setiap hari? Maka dari itu dapat disimpulkan, kesuksesan seseorang, baik pria maupun wanita, pasti ada wanita berperan di sana. Ibu yang baik berperan dalam kesuksesan anaknya. Istri yang telaten, berperan besar bagi kesuksesan suaminya. Maka janganlah sekali-kali meremehkan wanita. Ingatlah siapa yang melahirkan, menyusui dan membesarkan kita, itulah sebabnya mengapa wanita yang menjadi “kuncinya”.

Menapaktilasi Sejarah Wanita
Wanita memang makhluk terindah yang pernah tercipta di dunia. Ianya diberi kelebihan oleh Allah dari berbagai sudut. Tak bisa dipaksakan, pria dan wanita memang berbeda. Pria maupun wanita mempunyai kelemahannya masing-masing, di saat ujian datang menyapa.
Saya jadi teringat dengan penyampaian Ustadz Felix Siauw di sebuah kajian tentang wanita di Jogja. Semenjak dahulu wanita kerap dianggap rendah, benalu, aib dan objek seks. Bagaimana fakta sejarah membuktikan, kebudayaan Yunani yang dikatakan peradaban paling tua, memandang wanita begitu rendahnya. Apalagi jika kita temukan gambar-gambar atau patung-patung di dalam bangunan Eropa kuno, gereja-gereja, maupun sinagog-sinagog yang mengeksploitasi wanita dengan sangat ‘mengerikan’ dan vulgar.
Wanita seolah-olah hanya untuk dijadikan simpanan. Dewa Zeus, dewa paling tinggi dalam mitologi Yunani dikisahkan mempunyai banyak selir atau selingkuhan (kalau antum penasaran, silakan cari di google). Bagaimana dengan para hamba jika dewanya saja sudah mengajarkan untuk selingkuh?

Bahkan selingkuhannya merembah ke manusia juga, setelah menikah dengan Dewi Hera, Sang Dewa belum puas, maka selingkuhlah dengan manusia. Jadilah Zeus mempunyai anak ‘manusia setengah dewa’.
Adapula Dewi Aphrodite (Dewi Kecantikan) yang dinikahkan Zeus kepada saudaranya sendiri; Dewa Hephaestus (Dewa Pandai Besi), yang notabene berwajah buruk. Aphrodite tak terima, karena manalah mungkin Dewi Kecantikan menikah dengan Dewa ‘Buruk Rupa’. Akhirnya Sang Dewi Kecantikan main serong kepada Dewa Ares. Jadi inilah gambaran wanita di Yunani, kalo ga selingkuh, ya diselingkuhin.
Dalam Kitab Talmud-nya orang Yahudi, tidak beda jauh. Tertera dalam Menahoth 43b-44a:
Seorang lelaki Yahudi diwajibkan membaca doa berikut setiap hari; ‘Terimakasih Tuhan! karena tidak menjadikanku seorang kafir, atau seorang wanita atau budak belian”
Kesimpulannya, wanita disejajarkan dengan orang kafir ataupun budak. Seharusnya kata-kata yang terlontar dari mulut wanita Yahudi, tidak jauh dari kalimat, “trus gue harus ngapain kalo udah disamain dengan budak?”. Yahudi mengajarkan bahwa wanita hanyalah sebagai pelayan. Nasib wanita itu tergantung. Jika ada harta waris, harta tersebut tak boleh diwariskan kepada perempuan, selama masih ada laki-laki di keluarganya. Bahkan wanita adalah sesuatu yang dapat diwariskan sebagaimana harta. Bila suaminya meninggal, maka si wanita ini diwariskan kepada wali yang terdekat. Wanita disalahkan oleh mereka, sebagai sumber segala kejahatan dan dosa. Mereka menganggap, manusia turun dari surga ke dunia dikarenakan Hawa yang menggoda Adam untuk terjerumus kepada perbuatan dosa. Juga apa yang tertuang dalam Talmud Kehuboth 11b:
Bila lelaki Yahudi yang telah dewasa bersetubuh dengan anak perempuan, maka itu tidak mengapa
Wanita dinilai sebagai makhluk yang hina. Sebagai pembawa sial, dan sumber bencana. Mereka menginginkan wanita hanya sebagai pemuas nafsu birahi, alih-alih menjadi manusia yang unggul. Inilah kedudukan perempuan dalam budaya umat-umat sebelum Islam. Sangat hina, hingga lebih hina dari binatang sekalipun.
Beberapa peradaban tak jauh berbeda. Tradisi Sati orang Hindu di India, mengharuskan seorang wanita yang telah menikah, jika suaminya mati dan ia masih hidup, maka ia harus ikut mati bersama suaminya. Maka kesimpulannya, istri tidak boleh ‘lebih’ dari suami. Kesetiaan istri kepada suaminya adalah ia rela mengikuti suaminya yang meninggal dunia. Apapun itu caranya. Bagi bangsa India, dalam tradisi Manu, perempuan hanya diposisikan sebagai pelayan ayah dan suaminya[1]. Semua harta yang dimiliki perempuan, akan kembali kepada laki-laki. Baik itu suaminya, ayahnya, ataupun anak laki-lakinya.
Lain lagi dalam tradisi Buddha. Wanita dianggap sebagai makhluk kotor yang suka menggoda laki-laki[2]. Laki-laki tidak akan pernah berdosa, sekalipun laki-laki terjerumus dan tergoda, dosa akan tetap milik si wanita. Semua dewa dalam Buddha harus laki-laki. Adapun wanita, dianggap sebagai benalu dan makhluk yang tak dapat diselamatkan. Hampir di semua ajaran selain Islam, wanita dianggap sebagai ‘sesuatu’ yang tidak dikehendaki kehadirannya. Lalu bagaimana mereka memperbanyak keturunan? Siapa yang menyusui bayinya agar bayinya tetap sehat? Siapa pula yang mencuci bajunya ketika perang, menjaga rumahnya ketika bekerja, merawat dirinya ketika sakit.
Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam pun datang, membawa kebenaran bernama Islam. Menebar kedamaian, mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Saat turun perintah berhijab[3], para wanita mukmin yang mendengar wahyu dari Allah yang disampaikan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam’ langsung mencari dan menyobek kain di sekitarnya untuk dijadikan hijab. Benarlah, bukan dikungkung, tapi agar mudah dikenali. Bukan dikekang, tapi agar lebih dihormati. Bukan cantiknya tak terlihat, justru cantiknya terpelihara ibarat permata yang dijual di etalase. Tak sembarang orang bisa memegang, tak sembarang orang bisa meminang. Inilah bentuk penghargaan Islam atas wanita, makhluk terindah yang pernah diciptakan Allah azza wa jalla.
Seharusnya dengan turunnya perintah ini, para wanita bersyukur, bisa bebas kemanapun tanpa khawatir ‘perhiasannya’ dinikmati mata keranjang tak bertanggung jawab. Keindahannya tetap terjaga, kehalusannya tetap utuh, tidak dirusak terik matahari, tidak tercemar debu dan kotoran. Maka beruntunglah bagi kalian yang telah berhijab, surga tinggal beberapa jengkal bagi kalian. Sepatutnya lelaki mencari istri yang taat kepada Tuhannya. Karena dua orang yang cinta kepada Allah bila bertemu, tidak akan mengembalikan permasalahan kecuali kepada Allah semata. Tidak akan ribut berlarut-larut, karena mereka sadar sedang mengejar ridho Allah.

[1] Siti Muslikhati, Feminisme dan Pemberdayaan Perempuan dalam Timbangan IslamI, 2004.
[2] Ibid
[3] Al-Ahzaab 36:59

WANITA YANG MENGHINAKAN DIRINYA SENDIRI

Pesona wanita sungguh berdaya magnet luar biasa. Ada orang yang sanggup melampaui godaan harta dan takhta, tetapi lumpuh menghadapi bujuk rayu wanita. Boleh jadi banyak pria mampu meretas berbagai masalah, tetapi tidak berkutik di bawah ketiak wanita.

Kecintaan kepada wanita memang merupakan fitrah manusia. “Dijadikan indah untuk manusia kecintaan pada segala yang diinginkan, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah tempat kembali yang baik” (Al-Imran: 14).
Sejarah juga mencatat, wanita kerap digunakan sebagai umpan. Inilah yang dilakukan kaum kafir Makkah ketika hendak menghalangi dakwah Nabi Muhammad. Namun, manusia mulia itu tegas menolak seraya berkata, “Demi Allah, andaikan matahari diletakkan di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, niscaya aku tidak akan berhenti dari dakwah sampai Allah memenangkan agama ini di atas selainnya.”
Kendati begitu, tidak mudah berlepas diri dari pesona kaum Hawa. Itulah yang pernah dirasakan manusia sekaliber Nabi Yusuf. Semata karena pertolongan Allah, Nabi Yusuf dapat selamat dari rayuan Zulaikha, istri Raja Mesir itu. “Sungguh wanita itu telah menginginkan Yusuf, dan Yusuf juga menginginkan wanita itu, andaikata dia tidak melihat tanda dari Tuhannya. Demikianlah, Kami palingkan Yusuf dari kemungkaran dan kekejian. Sungguh Yusuf termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih” (Yusuf: 24).
Bahkan, muasal teguran Allah kepada Nabi Dawud adalah karena menikahi Sabigh binti Syaigh, wanita pinangan Uria bin Hannan (Shad: 21-26). Tepatlah kenapa Nabi Muhammad mewanti-wanti kita agar senantiasa bersikap ekstra waspada terhadap wanita. “Sungguh dunia itu manis dan menghijau. Dan sungguh Allah menjadikanmu sebagai khalifah di dalamnya. Maka Allah akan melihat apa yang kamu kerjakan. Maka takutlah kepada dunia dan wanita. Karena sungguh fitnah pertama yang menimpa Bani Israil adalah dalam hal wanita” (HR Muslim).
Dalam hadis lain juga dinyatakan secara tegas, “Tidak aku tinggalkan pada manusia godaan yang lebih dahsyat bahayanya bagi kaum pria kecuali godaan kaum wanita” (HR Tirmidzi). Fakta membuktikan, tidak sedikit orang besar terjatuh dalam kehinaan akibat tidak berdaya menghadapi wanita. Hasrat memiliki harta dan takhta belum dirasakan sempurna tanpa aroma wanita. Berhasil menggenggam ketiganya akan memunculkan kepuasan tiada tara.
Lihatlah para penggenggam harta dan takhta. Mereka yang mulanya tampak arif dan setia pada keluarga, tiba-tiba terjerembab dalam perkara wanita. Karier yang moncer habis tiada sisa untuk ‘membeli’ wanita yang secara fisik menggoda dan mempesona. Ini semakin mengukuhkan anggapan bahwa wanita memang berkelindan dengan harta dan kuasa.
Ironis. Tidak seharusnya wanita menjadi komoditas dan dieksploitasi. Islam telah mendudukkan wanita dalam posisi yang sangat mulia. Martabatnya sebagai ibu bangsa. Pada pundak wanita, terletak masa depan tunas-tunas bangsa. Kisah perselingkuhan, gratifikasi, dan semacamnya yang melibatkan wanita jelas mencederai martabat ibu bangsa sekaligus bertentangan dengan Islam.
Tidak kalah penting, perlu adanya kesadaran dalam diri wanita. Kehendak menjadi ‘alat umpan’ kerap bermotif ingin meraup dunia tanpa bekerja. Saatnya wanita jangan menghinakan dirinya. Wanita adalah bunga dan perhiasan yang menjadi tempat berlabuh kebahagiaan keluarga. Itulah wanita shalihah. Yaitu wanita yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak berada di tempat (An-Nisa: 34).

Rabu, 12 Juni 2013

AMAL YANG BERBALAS SEGERA

Seorang ibu yang usianya 55 tahun, hobbinya ikuti pengajian di salah satu Majelis Ta’lim di kota ini, tiba-tiba memperoleh undian Umrah gratis dari salah satu Travel Biro perjalanan haji yang berulang tahun. “Alhamdulillah”, kata ibu yang bercucu 4 orang itu yang langsung sujud syukur, di tengah-tengah anggota majelis Ta’lim lain yang ikut diundi, berjumlah 4OO orang, sementara waktu itu dia tidak mengetahui kalau ada undian. Nawaitunya hanya mau mendengar nasehat agama, seperti biasanya.
 
 


Sebagian tetangga, kerabat dan anggota pengajian iri, bahkan ada yang melontarkan kalimat, “ dari Majelis Ta’lim manakah dia ?. Sudah berapa tahun ikut pengajian ? ”, dsb Tapi ada juga tetangga dan kerabat yang berpikiran sehat dan mengakui, bahwa memang dialah paling wajar karena rajin dan ikhlas. Hari itu dia sendiri yang pergi mengajak anggota pengajian lain, karena harus ada 4 orang tiap majelis taklim, sekalipun dia bukan pengurus dan berstatus anggota biasa. Karena ibu tersebut datang berkonsultasi dengan penulis, tentang keberangkatannya, maka hal ini terbukti lagi, kebenaran ayat-ayat Allah, bahwa keikhlasan dalam beramal itu, langsung terbalas di dunia, apalagi diakhirat nanti. Ibu yang tergolong kelas menengah ke bawah, sama dengan memperoleh uang sebanyak Rp 15 juta untuk berkunjung selama 1O hari ke Mesjidil Haram, Mesjid Nabawi dan daerah-daerah bersejarah lainnya.

Apakah ikhlas itu ?.

Dalam Al-Quran: Dalam Al-Quran ada satu surah yang namanya surah Al-Ikhlash, ayatnya 4 (Artinya): “ Ketahuilah: “Dialah Allah Yang Mahaesa (1) Allah tempat bergantung segala sesuatu (2) Tidak beranak dan tidak pula diperaknakkan (3) Dan tiada sesuatu pun yang setara dengan Dia (4).

Menurut sebagian mufassir, wahyu itu turun sebagai jawaban pertanyaan kaum musyrikin dan Yahudi kepada Nabi Muhammad, bagaimana sebenarnya Tuhan yang disembah itu. Apa nisbahnya terbuat dari emas atau perak ?.Lalu dijawablah sesuai al-ikhlas diatas.

Maknanya, Allah itu ialah Wujud Mutlak, satu-satunya Tuhan yang berhak di sembah. Berebeda dengan pengertian Ilah, yaitu siapa saja yang dipertuhan, matahari, bintang atau hawa nafsu. Karena itu Al-Quran menegaskan, “Afaraayta man ittakhadza ilahahu hawahu” (Terangkanlah tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya (sebagai) tuhannya (QS.25:43).

Mengenai kata “Ahad ”,dapat berkedudukan sebagai nama dan sifat. Jika berkedudukan sebagai sifat, maka hanya digunakan untuk Allah SWT semata.

Jadi keEsaan Tuhan Allah itu, tergambar dalam Al-Quran dengan “ Qul inna shalati wanusuki …(Katakanlah : Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidup dan matiku, semuanya karena Allah, Pemelihara seluruh alam) (QS. 6:162).

Setiap musalli dianjurkan membaca ayat tersebut dalam iftitah, sebelum membaca Fatiha, sekurang-kurangnya 5 kali sehari semalam..

Kemudian pada ayat lain “ Wama umiru illa liya’budullah…(Padahal mereka tiadala disuruh, kecuali menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam menjalankan agama yang lurus ) (QS.Al-Bayinah 5).

Dari kedua ayat itulah, bermakna bahwa keikhlasan dalam beramal, dimaksudkan, seorang muslim tidak dibolehkan mencari lagi tujuan lain, selain hanya Allah semata dalam segala kegiatannya.. Demikian juga pemberian surah Ikhlas, karena secara murni menafikan segala kemusyrikan terhadap Allah, sehingga wajarlah jika rasul kita menilai, surah al-ikhlas itu sepertiga Al-Quran.

Sesuai niat :Dari Amiril mukminin, Abu Hafsah Umar bi Khattab RA, berkata saya dengan dari rasul berkata “ Setiap amal disertai dengan niat. Setiap amal seseorang, tergantung yang diniatkan. Siapa yang berhijrah karena Allah dan rasulnya, maka ia akan terbalas sesuai ridha Allah. Tetapi, siapa yang berhijrah karena kepentingan dunia, ia akan memperolehnya, atau berhijrah karena perempuan, ia akan mengawininya. Maka berhijrah itu, sebatas motivasinya” (HR. Bukhari-Muslim).

Dengan dasar Hadis tersebut, ternyata apa saja yang dilakukan seorang muslim, harus dibingkai betul-betul yang namanya kerikhlasan, karena inilah jantungnya amal. Kapan jantung itu tidak berdetak dalam bingkai amal, maka amal yang dilakukan dianggap mati dan kalau tokh ada balasannya pasti mengecewakan.Karena dibingkai ketidak ikhlasan.

Teringat kissah di Pesantren dahulu, ketika pesantren diliburkan, para santri semuanya pulang kampung, dan setelah libur habis mereka kembali. Diantara mereka ada yang sempat membawakan ustaznya oleh-oleh kampong, berupa beberapa batang ubikayu hasil kebun orangtuanya. Dan memberikan kepada ustaznya dengan ikhlas. Tapi si ustaz, mencarikan balasan, sesuai yang pernah diajarkan, setiap pemberian itu sedapat mungkin di balas dengan lebih tinggi nilainya ( Fahayyu biahsana minha ).Karena tidak ada harta lain Ustaz di rumah kecuali seekor kambing, maka kambing itulah yang dibalaskan untuk dipelihara ayah si santri di kampung. Ketika santri lain mendengar balasan oleh-oleh dari ustaz, lalu dengan patungan, mereka membelikan juga ustaznya satu karung durian, dengan harapan balasannya kerbau atau sapi. Tapi pa yang terjadi si santri yang membawa durian itu, balasannya tiada lain, kecuali sisa-sisa ubi kayu yang belum dimakan pemberian santri yang ikhlas kemarin. Dan meminta maaf kepada orangtua santri, jika tidak membalas, dengan nilai materi yang lebih tinggi, seperti kambing. .Satu-satunya tambahan balasannya, ialah mendoakan, agar si santri jika beramal hendaklnya dengan hati ikhlas. Dan bukan menunggu balasan, karena sering kekecewaan itu, jika menunggu balasan.Al-Quran mengabadikan “ Lanuridu minkum jazaan” ( Kami beramal bukan menunggu pembalasan dunia ).

Dari Abdullah bin Umar bin Khattab, bahwa Rasul menceriterakan, ada tiga pemuda yang pergi berjalan-jalan lalu menemukan gua dan memasuki sebagai tempat berlindung, kemudian gua itu tiba-tiba runtuh dan hanya sedikit yang terlihat keluar. Ketiga pemuda itu mempertaruhkan amal ikhlas yang masing-masing yang pernah dilakukan.Pertama si A mempertaruhkan amal ikhlas yang pernah dibuat pada orangtuanya, sehingga terbuka sedikit.

Kedua si B mempertaruhkan amal ikhlas yang pernah dibuat pada bawahannya, sehingga lebih lebar, tapi belum ada yang dapat keluar

Kemudian si C memperaruhkan amal ikhlas yang pernah dilakukan, yaitu menolak permintaan berzina seorang gadis cantik. Maka gua terbuka lebih lebar dan keluarlah ketiga pemuda dengan selamat.(HR.Bukhari Muslim).

Demikianlah contoh keikhlasan yang langsung terbalas seketika, sekalipun dalam bahaya.

Mensyukuri yang kecil:Termasuk juga dalam kategori tidak ikhlas, jika ada pemberian kecil lalu ditolak, karena bisa berdampak, yang kecilpun terlepas juga, gara-gara tidak mau mensyukuri yang kecil. Alkissah, seorang kawan pernah menawarkan kepada saudaranya untuk umrah, tapi sang saudara menolak karena haji kecil, dan hanya mau menerima jika haji besar yang wukuf di Arafah “Astagfirullah, anakku saja, tidak ada yang saya biayai untuk haji besar, karena terlalu mahal seharga tiga kali umrah”, kata saudara yang yang menwarkan biaya umrah.. Berselang beberapa tahun kemudian, sesudah teman sepengajiannya naik umrah lantaran menang undian Travel, barulah saudaranya itu menyatakan, sudah bersedia umrah, tapi apa yang mau dilakukan, sang saudara yang dulu menawarkan biaya umrah, kini sudah tidak mampu lagi, karena biayanya sudah digunakan mengawinkan anaknya sebagai kewajiban orangtua “ memberi nama yang baik, memberi makan yang halal dan mengawinkan anak sesudah akil balig.”. Itru sebabnya agama menyatakan, kita harus mensyukuri yang kecil. “ Barangsiapa yang tidak mensyukuri yang kecil, niscaya ia tidak mensyukuri yang besar “ (HR.Al-Nasai).

Dalam sebuah ayat yang sudah popular” Lain syakartum laazidannakum… “ (Jika kamu mensyukuri pemberianKu, niscaya akan kutambahkan (tapi) jika kamu ingkari, ingatlah siksaanKu amatlah pedihnya (QS.14:7).

Yang dimaksud mengkufuri nikmat ialah menutupi dan tidak menggunakan pemberian Allah, dengan sebaik-baiknya, karena pada hakikatnya sewmua pemberian adalah dari Allah, hanya melalui tangan sesama manusia.Setiap gerakan, sekecil apapun dalam hati manusia, Allah mengetahui dan menilainya “ Qul in tukhfu mafi shudurikum, aw tubduhu ya’lamhullah” (Katakanlah: Jika kamu menyembunyikan apa yang ada di hatimu, atau kamu tampakkan, pasti Allah mengetahuinya) (QS.Ali Imran 29).

Dari uraian diatas, maka yang disebut orang ikhlas ialah yang melakukan pekerjaan, semata-mata karena takwa kepada Allah. Dan bukan karena menunggu balasan dunia.Orang yang betul-betul ikhlas, balasan dunianya pun terlihat spontan dalam dirinya, sebagai kemuliaan. Jalan-jalan menuju ikhlas, termasuk mensyukuri pemberian kecil. Karena orang yang suka mensyukuri nikmat, sekecil apapun, pasti Tuhan akan menambah lebih banyak, sedang orang yang tidak suka mensyukuri yang kecil, niscaya Tuhan akan menyiksanya dengan kehidupan yang lebih sempit. Semoga Allah memberi taufik , agar kita suka berbuat ikhlas dan syukur. Amin.

MEMBANTU FAKIR DAN MISKIN

Begita banyak kita mendengar, meliahat dan menyaksiakan berita menyedihkan itu disamping berita kemiskinan lain akhir-akhir ini, sungguh menyayat hati nurani kita yang paling dalam. Yang sangat mengherankan, pertama karena kasus busung lapar berada di kawasan lumbung padi. Yang kedua, karena kamatian empat wanita, justru di bulan suci Ramadhan yang banjir sumbangan. Artinya, makna dan kaifiat menyumbang yang tidak tepat.

Di negara maju juga, bagaimanapun kayanya, juga ada orang miskin, misalnya yang pernah penulis saksikan di Jepang, ketika meninjau istana kekaisaran di Jepang. Jalanan menuju lokasi terlihat ada kelompok dibawah pohon-pohon rindang, manusia yang berpakaian kumuh, menunggu pemberian. Kata orang, itulah orang miskinnya yang tidak mau kerja. Tapi pangannya ditanggung pemerintah dengan rapi. Jadi peranannya, hanya semacam tontonan dan rekreasi, sebelum melihat istana. Demikian juga di Australia Selatan, di suatu lapangan pembatas antara gedung bertingkat dengan bangunan pertokoan, terdapat sekelompok manusia yang juga berpakaian kumuh, duduk semraut dibawah pohon. Konon, mereka adalah penduduk asli Aborogin yang miskin, tapi lagi-lagi ditanggung pemerintah. Sebenarnya di Indonesia juga, orang miskjn ditanggung pemerintah sesuai undang-undang dasar, tapi karena keterbatasan dana atau terlalu banyaknya musibah yang harus diprioritaskan, akhirnya pemerintah SBY-MJK hasil pilihan langsung rakyat, baru akan mengarah kesana. Akibatnya bengkalai masa lalu menyebabkan masih berkeliaran Fakirmiskin. Semoga tidak terlalu lama kita menunggu bayangan positif mengentaskan orang miskin.

Bagaimana menurut Al-Quran ?.
Menurut Bahasa Arab, Fakir berasal dari kata “Faqara” yang artinya orang yang patah tulang belakangnya. Atau orang yang sangat berhajat kepada sesuatu, karena miskin. Atau orang yang papa dan termiskin.

Kata Miskin, juga berasal dari Bahasa Arab “Sakana” yang berarti diam, tidak banyak bergerak, karena miskin. Inilah yang terbanyak di negeri kita.

Dalam Ilmu Fikih, orang miskin ialah orang yang berpenghasilan rendah, dan tidak mencukupi penghasilan yang ia peroleh. Sedang fakir ialah orang yang tidak berharta dan tidak berpenghasilan. Kedua istilah ini sering digabung menjadi Fakirmiskin, sebagai gambaran orang yang lemah dan perlu di tolong.

Menurut salah satu ayat dalam Surah Al-Ma’un, seorang muslim sekalipun ia mengerjakan salat masih dapat disebut orang celaka, jika tidak suka membantu orang miskin.

Bahkan makna Pendusta agama itu, diantaranya orang yang “ WALA YAHUDDHU… “( Orang yang tidak menganjurkan memberi makanan orang miskin ).

Menurut ulama Tafsir WALA YAHUDDHU berarti, tidak menganjurkan. Atau tidak menyadari dan tidak menangani orang miskin sebagai tugas tugas kita semua. Termasuk bagi mereka yang hidupnya menengah ( pas-pasan ) Jika tidak memungkinkan dapat menyumbang uang dan harta, maka yang harus dilakukan adalah menyumbangkan tenaganya dengan jalan menganjurkan atau ikut Tim yang dapat mengentaskan orang-orang Miskin.Dari ayat tersebut dapat dipahami, bahwa orang-orang yang akan menghuni neraka nanti ialah orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak pula mendorong orang lain, memberi makan orang-orang miskin diserkelilingnya.
.
Hak orang miskin:Menurut Al-Quran, WAFI AMWALIHIM HAQQUN LISSAILIN (Didalam harta mereka ( yang kaya) terdapat hak orang-orang peminta-minta dan tidak meminta ) (QS 51:19).

Hal ini dipahami, nahwa harta benda yang bertahun-tahun kita kumpulkan, bukan seluruhnya milik kita, sekalipun kita sendiri yang berusaha dan membanting tulang. Sebagian kecil didalamnya kepunyaan orang miskin.Bahkan kata kasarnya, jika kita gunakan sendiri, kita dianggap termasuk kelompok perampas hak orang miskin. Agama mewajibkan kita memberikan sebagian kepada mereka yang miskin. Tidak banyak. Zakat itu tidak berkisar antara 2, 5 – 2O % pertahun. Tapi sebagian mufasir menganjurkan, setiap menerima rezeki, langsung dikeluarkan juga seketika, karena ditafsirkan masuk kelompok “ghanimah ” (rezeki mendadak), semacam honor atau jasa dari keahlian.Dan Inilah yang diperaktekkan sebagian negeri-negeri Islam di Timur Tengah, sehingga orang miskinnya berkurang.

Jika kita berpikir rasional,sebenarnya harta benda yang dikumpulkan orang yang berpunya (aghniya) , sebagian dari jasa yang ikut bermandi keringat, ketika mengangkat harta itu misalnya dari pelabuhan ke gudang, waktu barang-barang itu diimpor atau diekspor. Sebab itu wajar juga, jika memperoleh bahagian kecil.Alhasil, pemberian yang disumbangkan kepada orang miskin, memang awalnya adalah haknya sendiri, lalu diperkuat Al-Qutan. Dan tidak akan merugikan orang mampu ( aghniya ).

Harta bertambah:Bantuan yang diberikan kepada orang miskin, bukan berkurang, tapi akan semakin bertambah. Al-Quran menyebutnya “WAYURBI SHADAQAT “(Allah menghancurkan sistem riba dan mengembangbiakkan sedekah) (QS.2: 276)

Untuk membuktikan kebenaran ayat ini, penulis pernah membaca riwayat hidup seorang pengusaha sukses di daerah ini. Ketika keuangannya melaporkan saldo kas sisa sedikit, justru diperintahkan kepadanya, untuk mengeluarkan semuanya dan membaginya kepada orang-orang miskin. Apa yang terjadi ?. Dalam waktu yang relative singkat, uang yang dibagikan itu terganti, mebihi dengan yang telah disedekahkan.Boleh dicoba asal ikhlas.

Bantuan yang diberikan kepada orang miskin, sekaligus menghilangkan jurang pemisah antara sikaya dan miskin. Sebab lanjutan ayat yang memerintahkan agar yang menerima sumbangan dianjurkan Al-Quran “WASHALLI ALAIHIM…(Berdoalah untuk mereka, sehingga membawa ketenteraman bagi pemberi sumbangan.).(QS. 9 : 1O3).

Berdasarkan ayat tersebut, maka aghniya hendaknya dengan ikhlas menyerahkan sebagian hartanya dan masakin, hendaknya berterima kasih dengan berdoa, agar lebih murah rezekinya para penyumbang.

Untuk menghidari kemungkinan terjadi korban antrean mustahik menunggu sumbangan seperti bulan Ramadhan yang lalu, sebaiknya orang yang membagikan zakat itu proaktif. Bukan didatangi, tapi mendatangi. Salah satu makna “Atu al-zakat ” dalam Al-Quran berarti proaktif pergi ke lokasi membagi. Itulah arti Walmarhum ( yaitu miskin, tapi tidak pergi minta-minta), karena malu sehingga wajib bagi amil mengantarkan. Inilah kaifiat pendistribusian sedekah yang benar.

Akhirnya, makna menyumbang Atau berzakat
kepada orang miskin ialah senantiasa siap bergerak membantu sekalipun dasarnya adalah kewajiban Negara, sesuai undang-undang. Tapi karena Islam mewajibkan lebih dulu sesuai Al-Quran, maka kita semua harus membantu pemerintah. Bantuan “ aghniya ” sesuai keikhlasan. Minimal sama kadarnya kewajiban zakat tahunan ( antara 2,5 % sampai 2O % ).Tapi bantuan yang lebih baik seperti yang dilakukan Rasul adalah membantu yang produktif. Hal itu ditempuh juga di Korea yaitu petani penyewa diubah statusnya menjadi pemilik. Dan bantuan berikutnya berupa bibit, air dan kredit murah.

Bantuan muslim yang berpenghasilan menengah, minimal ikut menjadi Amil ( panitia), sehingga semua muslim rata-rata berada dalam koridor pencinta rakyat miskin seperti sifat Rasulullah SAW. untuk menghindari pembagian yang dapat membawa bencana, kaifiatnya mengantarkan ke gubuk orang miskin, seperti yang dipraktekkan Khalifah Umar bin Khattab RA.

ajakan membantu : ANAK YATIM MENUNGGAK BIAYA SEKOLAH


Muji Rohmat, anak yatim itu bercita-cita menjadi seorang Dokter serta berjanjin membahagiakan sang Ibunda, harta terindah dan tersayang bagi dirinya. Tahun depan dia akan menyelesaikan pendidikannya di kelas VII Madrasah Tsanawiah (MTS) Nurul Hidayah sederajat dengan Sekolah Menegah Pertama Yayasan Pendidikan Al Mahbubiyah, Cilandak Timur Jakarta Selatan.




Muji di besarkan bersama adiknya Almarhumah Mega yang telah berpulang ke Rahmatuullah 1 Tahun yang lalu karena Tuberkolosis TBCAkut . Penyakit itu diderita adiknya hampir 2 tahun lamanya. Penyakit yang besar kemungkinan terjadi karena sanitasai lingkungan Rumah Kontrakan mereka yang berukuran 4 X 5 Meter tanpa jendela lah yang telah membawa mereka mengindap penyakit endemik itu.




Sang Ibu adalah seorang Tukang Cuci dengan pendapatan kurang dari 700.000,- sebulan di tiga Rumah. Muji dan Ibunya juga di indikasi tertular TBC dan sedang dalam masa pengobatan dan penyembuhan TBC mereka.walau begitu dia tetap membanting tulang demi anak-anaknya meneruskan pendidikan agar mereka yang dicintainya itu. walau terkadang dia harus mengendong tubuh lemah Mega diatas tubuh ringkihnya hnaya untyuk mendapat santunan rutin di Majelis Darul Aytam setiap malam jum'at yang jumlahnya tidak seberapa itu.
Kini sepeninggal adiknya Mega, kembali Ujian itu datang kepada keluarganya, muji dan ibunya tidak sanggip membayar uang sekolahnya di Yayasan sehingga menunggak Rp. 2.261.500.- yang merupakan uang bayaran akumulaatif 1 tahun terakhir. Sehingga Dia tercantam TIDAK BISA IKUT UJIAN / ULANGAN kenaikan Kelas. Adakah kita membiarkan Harapan Indah masa depan Muji dan Ibundanya musnah ???. Mari iklasakan diri kita membantu mereka




Salurkan Zakat Infak dan Shadaqah Anda ke Rekening :
Bank Mandiri No. Rek.1260004993787 An.Chuswatun Hassanah 
qq Yayasan Darul Aytam.
BNI No Rek. 273401364 an Drs.Setiawan qq.Yayasan Darul Aytam.
BCA 7650412197 An. Drs.Setiawan qq. Yayasan Darul Aytam.
Bagi Wakif di Malaysia sila transfer ke account 160018582289 maybank account 
atas nama Suzana Mohd Ali.




untuk Konfirmasi silahkan hubungi kami 
Ustadz Abi Zakky Setiawan 0823 50537123
Ustadzah Saffira Adanan 021 41415418
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
Itulah orang yang menghardik anak yatim,
dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,
(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,
orang-orang yang berbuat riya,dan enggan (menolong dengan) barang berguna.
QS. al-Ma’un (107) : 1-7